Puisi

Mustofa WHasyim

BANDUNG MENJADI JAKARTA

Ini malam paling nyata

sunyi menyerbu cakrawala

nama hilang dalam perjalanan

pesta kata

memilih batu

membayar waktu

memilih luka

mengubur jejak gelisah lama

pada lembabnya debu

siapa menitipkan rindu

langit menyergap

membangunkan lagu

bisu.

Bandung, 24 Juli 2008

sinopsis

belum tersedia

tips menulis esai

belum tersedia

tips menulis cerpen

belum tersedia

tips menulis puisi

belum tersedia

Belanja Sampai Mati, Citra Diri Remaja

“NAMA saya Cheallaigh (ungkap Kelly),” tertulis di halaman depan situsnya. “Saya menderita anoreksia sejak umur 6 tahun, jenis bulimia. Berat 120 pon dan tinggi 5,6 kaki. Sekarang saya berumur 17 tahun dan mengikuti community college. Halaman ini adalah buku catatan pribadi berisi kisah cinta saya dengan anoreksia.”

Jika Anda menyangka “kisah cinta” yang dimaksud adalah cinta ironi, Anda salah besar. Kelly memang benar-benar jatuh cinta pada anoreksia. Ia mendewakan tubuh kurus. Demi tubuh layaknya model, ia bertahan menjadi seorang “pro-ana” (pro-anoreksia). Ia melaparkan diri, membuat menu makanan rendah kalori, memuntahkan apa yang ia makan, dan bangga untuk menjadi kurus dengan anoreksia. Di Amerika sepuluh persen remaja berperilaku anoreksia di usia 10 tahun atau kurang, sedangkan 33% memulai antara umur 11-15. Padahal, dampak dari penyakit ini sungguh mengerikan, menstruasi berhenti, pengeroposan dini tulang, lemah fisik, dan akhirnya kematian.

Kisah tentang anoreksia itu merupakan sedikit fakta mengejutkan yang dipaparkan penulis dalam bukunya Belanja Sampai Mati. Buku ini banyak memberikan fakta seputar gaya hidup remaja Amerika yang mengejutkan, sulit dipercaya, dan terkadang sedikit tak wajar.

Gempuran para model yang bertubuh kurus itu melekatkan citra “cantik”. Belum lagi standar cantik Hollywood di mana tubuh kurus dan payudara besar akan membuatmu terkenal. Para remaja berlomba mendapatkan tubuh kurus dengan payudara yang lebih besar. Implan payudara menjadi sesuatu yang sangat normal di kalangan pelajar SMU Amerika. Bahkan, operasi plastik di beberapa bagian tubuh untuk menutupi ketidaksempurnaan dan mendapatkan rasa percaya diri tidak lagi dianggap luar biasa oleh mereka. Selama satu tahun, dari tahun 2000 sampai 2001, jumlah operasi kosmetik yang dilakukan remaja usia 18 tahun meningkat 21,8%, dari 65.231 menjadi 79.501. Hampir 306.000 dari 7,4 juta operasi plastik yang dilakukan penduduk Amerika pada tahun 2000 bertujuan mengubah penampilan remaja dan anak-anak. Mereka pun terbiasa dengan gaya hidup bermerek layaknya selebriti Hollywood .

Merek, sadar atau tidak sadar, telah melekat pada diri masing-masing orang sejak mereka pertama kali mulai memilih baju mana yang cocok untuk dirinya. Di Amerika, para remaja benar-benar melekatkan merek-merek tersebut untuk citra dirinya. Remaja saling menilai berdasarkan merek yang dikenakan dan berapa jumlah uang yang ia (atau keluarganya) miliki. Sekarang, 55% siswa SMA Amerika bekerja 3 jam sehari dan hanya 27% siswa asing tidak bekerja. Betapa mereka mengorbankan waktu untuk belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah untuk mendapatkan uang yang nantinya akan mereka belanjakan untuk sesuatu yang branded (bermerek).

Penulis memaparkan seluruh fakta tentang kapitalisme dan komersialisme pelajar Amerika ini dengan detail. Ia mengantar pembaca melihat sisi gelap dari pemasaran produk untuk remaja. Ia menguraikan jalinan rumit yang saling berkaitan antara kaum muda, media, budaya pop, agen korporasi, dan budaya konsumen.

Buku ini cocok bagi para remaja atau orang dewasa yang ingin “disadarkan” atas kebiasaan mereka berbelanja demi membentuk citra diri di mata orang lain. Bagi pembaca yang tidak pernah berbelanja barang-barang bermerek pun dapat memperluas wawasan tentang gejala-gejala konsumtivisme. Buku ini amat berharga tidak hanya sebagai telaah kritis atas apa yang melanda masyarakat Amerika, namun juga bisa menjadi panduan bagaimana menanggapinya. Masyarakat Indonesia dapat belajar dari semua fakta remaja Amerika ini agar generasi selanjutnya yang memang sudah kebarat-baratan tidak terus terjerumus dalam budaya pop Amerika.

Annisa Steviani, mahasiswa jurusan Jurnalistik Fikom Unpad.

http://www.resistbook.or.id/index.php?page=resensi&id=179&lang=id

Kepemimpinan SBY di Mata Dino

Oleh Budi Setiawanto
Jakarta (ANTARA News) – Wimar Witoelar pernah menulis buku “No Regret” berisi kesan-kesannya selaku Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid.

Kini giliran Dino Patti Djalal menulis buku “Harus Bisa! Seni Memimpin a la SBY” juga berisi kesan-kesannya selaku Juru Bicara Presiden mengenai gaya kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono.

Kedua buku itu mengungkap pencitraan figur Presiden dari kaca mata penulisnya.

Wimar menyebut Abdurrahman Wahid sebagai “the greatest man” (orang termasyhur), Dino menyebut SBY sebagai atasan, sahabat, dan mentor yang tidak ada bandingannya.

Bedanya, Wimar menulis tatkala Gus Dur alias Abdurrahman Wahid telah lengser, sedangkan Dino menulis buku itu saat SBY masih berkuasa. Buku Wimar ditulis dalam bahasa Inggris, buku Dino dalam bahasa Indonesia.

Buku Dino lebih detil dalam penulisan karena ditulis berdasar catatan harian selama mendampingi SBY meskipun tak bisa ditemui hal-hal yang berisi ketidaksetujuan penulis terhadap SBY apalagi kritik penulis terhadap kekurangan SBY.

Padahal SBY telah berpesan, “Dino, kalau engkau ingin menulis tentang apa yang saya pikir dan lakukan, tulislah secara obyektif. Ceritakan tentang kebenaran, say what I do, what I have done. Itu abadi, Din.”

Dino hanya mengatakan, “Buku ini saya tulis dengan hati nurani yang bersih.”

Sebenarnya ada “ketidaksetujuan” Dino ketika SBY memutuskan akan langsung ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dari Jayapura tatkala mendengar kabar terjadi gempa dan gelombang tsunami pada 26 Desember 2004.

Saat itu mereka dan rombongan sedang berada di Bumi Cenderawasih untuk menghadiri perayaan Natal.

Dino menyarankan SBY ke Jakarta terlebih dahulu dengan pertimbangan antara lain kondisi korban dan kerusakan di Aceh masih belum jelas dan kedatangan di Jakarta bisa memberi waktu untuk mempersiapkan kunjungan ke Aceh yang lebih matang.

Namun Dino tak berani menunjukkan ketidaksetujuannya secara langsung ke SBY. Ia ungkapkan hal itu pada halaman 4 dengan kalimat “Jujurnya, malam itu saya masih bertanya dalam hati apakah kepergian Presiden ke Aceh merupakan keputusan yang tepat.”

Alhasil Dino berujar, “Keputusan Presiden SBY untuk segera `maju ke depan` dan tiba di Aceh pada hari kedua setelah tsunami adalah keputusan yang tepat dan sangat strategis bagi proses pembuatan kebijakan pemerintah setelahnya.” (halaman 6).

Sebaliknya Dino mengkritisi Amien Rais yang juga telah berada di Aceh tetapi tidak merespon tawaran SBY saat rapat darurat bersama di Pendopo Gubernur Aceh untuk memberi komentar, tambahan, atau usulan penanganan bencana dahsyat itu.

“Beliau justru memilih mengeluarkan kritik pedas di luar melalui media, ketimbang memberi usulan konstruktif dalam rapat bersama seluruh pejabat,” tulis Dino tentang Amien Rais dalam buku yang diterbitkan oleh “Red & White Publishing” itu.

“Saya dulu kebetulan juga pengagum Amien Rais namun dari peristiwa itu ada satu pelajaran penting yang saya petik untuk para pemimpin masa depan: ada masanya di mana semua pemimpin bangsa harus dapat melupakan ego politiknya dan bahu-membahu bersatu menangani suatu krisis nasional.”(halaman 8).

Buku setebal 437 halaman plus 18 halaman untuk lembar dedikasi, kata pengantar, dan daftar isi ini berisi penilaian Dino tentang kepemimpinan SBY.

Dalam Bab I bertajuk “Memimpin Dalam Krisis”, dari bencana Aceh, Dino menyimpulkan kepemimpinan SBY sangat tepat karena dalam krisis selalu berada di depan dan mengubah krisis menjadi peluang tercipta perdamaian dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Dari kasus penculikan wartawan Metro TV oleh gerilyawan Irak, Dino menilai SBY merespon masalah secara “realtime” (seketika), ketika menaikkan harga BBM pada 2005 Dino menilai SBY pemimpin yang berani mengambil risiko, saat prihatin atas penculikan bocah berusia 5 tahun bernama Raisya, SBY dinilai Dino sebagai pemimpin yang melakukan hal tepat.

Bab II bertajuk “Memimpin Dalam Perubahan” berisi penilaian Dino tentang kepemimpinan SBY dalam birokrasi. Dino menilai SBY sebagai pendobrak birokrasi.

“SBY tahu sekali bahwa birokrasi tidak akan mengubah dirinya sendiri kecuali mulai diubah oleh pimpinan politik,” tulis Dino pada halaman 78.

SBY juga dinilai sebagai pemimpin yang bisa melakukan transformasi diri. Menurut Dino, sejak SBY dilantik menjadi Presiden pada Oktober 2004 ada empat transformasi diri yang dilakukan yakni menjadi seorang ekonom, menjadi “crisis leader”, mendudukkan diri di atas kepentingan golongan (above politics), dan menjadi negarawan internasional.

Pendek kata, menurut Dino, SBY telah memaksa diri dan dipaksa situasi untuk menggali kemampuan baru sekaligus meningkatkan kapasitas kepemimpinannya.

“SBY Tidak”

Bab III bertajuk “Memimpin Rakyat dan Menghadapi Tantangan” menggambarkan kepemimpinan SBY yang merakyat dan penuh ketulusan hati.

Dino memperhatikan ada teknik SBY yang baik disimak oleh calon pemimpin.

Kalau SBY menjabat tangan seseorang maka untuk dua atau tiga detik itu perhatiannya akan terfokus hanya pada orang di depannya: tangannya diremas erat, matanya menatap bola mata orang itu, dan senyumnya diarahkan hanya pada orang itu.

SBY seolah-olah mengatakan kepada orang yang disapanya, “Di sini, detik ini, hanya ada saya dan kamu.”

“Hal ini penting karena bagi saya tidak ada yang lebih menyebalkan daripada menjabat tangan seseorang yang matanya menerawang pada orang lain,” tulis Dino pada halaman 153.

SBY juga digambarkan Dino sebagai pemimpin yang ingin langsung mendapat masukan dari rakyat untuk mewujudkan demokrasi langsung.

Contoh yang tampilkan adalah ketika dialog SBY dengan para petani di Waduk Jatiluhur pada 11 Juni 2005.

Pada acara itu SBY memberi nomor telepon genggamnya (0811109949, buku Dino tidak menyebutkan nomornya) yang bisa dihubungi 24 jam sehari.

Akibatnya, nomor telepon SBY itu mengalami gangguan karena tak mampu menampung banyaknya orang yang mengirim pesan melalui layanan pesan singkat (SMS).

Hal terpenting dalam Bab III itu adalah kesan Dino bahwa SBY merupakan pemimpin yang konsisten menjaga warna politiknya dan menjunjung tinggi etika politik.

“Yang lain bisa saja berpolitik kotor: SBY tidak. Yang lain bisa menyebarkan isu bohong melalui SMS atau fitnah keji melalui media: SBY tidak. Yang lain bisa bermain politik uang: SBY tidak. Yang lain bisa kampanye hitam: SBY tidak. Yang lain bisa melancarkan politik penghancuran: SBY tidak. Yang lain bisa menyebarkan selebaran gelap: SBY tidak. Yang lain bisa menghalalkan segala cara untuk kekuasaan: SBY tidak.” (halaman 178).

Sejumlah penebar fitnah disebut seperti Eggi Sudjana dan Zaenal Ma`arif tetapi terhadap salah seorang mantan petinggi TNI Dino hanya berani menyebut “Jenderal X”.

Dino pun menjadi tahu perilaku standar dari penebar fitnah. Pertama, mereka melontarkan fitnah biasanya dengan cara bombastis dan sikap penuh keyakinan. Kedua, mereka dengan keras kepala mengancam membeberkan bukti-bukti untuk mendukung fitnah itu. Ketiga, setelah proses hukum berjalan mereka meminta maaf dengan segala kerendahan hati kepada orang yang difitnah agar terhindar dari bui.

Dari kasus tersebut, Dino menggambarkan bahwa SBY merupakan pemimpin yang pemaaf, tiada dendam.

Surat balasan SBY atas permohonan maaf dari Zaenal Ma`arif pun tertera pada halaman 211-214 buku ini. Surat balasan itu ditulis sendiri oleh SBY dan orang yang membacanya akan melihat dengan jelas akhlak dari SBY, kata Dino.

Bab IV bertajuk “Memimpin Tim dan Membuat Keputusan” memaparkan gaya kepemimpinan SBY yang sangat mementingkan kekompakan kabinet karena banyak menteri yang berasal dari partai politik. SBY selalu menegaskan bahwa selama menjadi menteri maka loyalitas adalah kepada Presiden dan Pemerintah.

Namun kenyataan mencatat bahwa SBY beberapa kali merombak kabinet dengan beragam alasan yang intinya menunjukkan bahwa kekompakan kabinet merupakan salah satu kerikil pemerintahan SBY.

Pada bab ini pula digambarkan bahwa SBY membela juru bicara Andi Mallarangeng atas desakan pimpinan DPR agar jangan terlalu banyak berkomentar dan Dino yang disebut-sebut sebagai agen asing.

Atas tudingan sebagai agen asing, Dino pada halaman 225 menulis, “Saya sudah mengabdi untuk Republik selama 20 tahun lebih dan saya lahir dari keluarga Pegawai Negeri yang nasionalis. Jadi bisa anda bayangkan betapa gregetnya perasaan saya mendengar celotehan `edan` seperti itu.”

Dalam pengambilan keputusan, Dino menggambarkan SBY sebagai pemimpin yang mampu mengambil keputusan kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun. Sangat jauh dari anggapan sementara kalangan yang menyebut SBY sebagai figur peragu, lambat, dan tidak “decisive” (tegas).

Dalam ilmu manajemen ada istilah “thinking on your feet” atau orang yang dapat berpikir sambil berdiri. Bagi Dino, SBY melakukan lebih dari itu: beliau bisa “deciding on the run” atau mengambil keputusan sambil berlari.

Judul buku ini diambil dari subbab bertajuk “Harus Bisa!” dalam Bab IV. Dalam menghadapi setiap situasi, SBY selalu mengatakan kepada pembantunya,”Harus Bisa!”.

“Beliau paling tidak suka kalau ada pembantunya yang sudah kalah atau jatuh mental sebelum bertarung. Berkali-kali SBY menyatakan dalam pidato publiknya: Kita jangan menjadi bangsa yang cengeng dan manja,” tulis Dino pada halaman 254.

Pada Bab V bertajuk “Memimpin Di Pentas Dunia”, Dino menggambarkan SBY sebagai pemimpin nasionalis dan internasionalis.

“Sebagai diplomat profesional, saya berpendapat bahwa SBY adalah salah satu `foreign policy President” terbaik selama ini,” tulis Dino pada halaman 284-285. “Foreign policy President” merupakan istilah diplomasi tentang tipe Presiden yang mempunyai perhatian besar pada dunia internasional dan memegang kendali diplomasi.

Selain sebagai sosok nasional dan internasionalis, pada bab ini Dino menggambarkan SBY sebagai pemimpin yang menyentuh hati dan menyembuhkan luka, percaya diri dalam mengambil sikap, peka terhadap situasi, menanam dan memanfaatkan “political capital” dalam diplomasi, mengukir sejarah diplomasi, dan menggagas ide melahirkan inovasi.

Pada bab VI bertajuk “Memimpin Diri Sendiri”, Dino menggambarkan SBY sebagai pemimpin yang menghormati ketepatan waktu, menjadi diri sendiri, pemimpin yang tidak mendewasakan kekuasaan, dan pemimpin bermental tangguh.

Bila Wimar tak ada penyesalan menjadi juru bicara Gus Dur, Dino tentu saja sangat bangga menjadi juru bicara seorang Presiden yang ia gambarkan sangat perfeksionis.

“Saya sering merasa seperti kuda lumping yang mengejar kuda balap,” tulis Dino dalam epilog.

Banyak pernyataan SBY dan cerita menarik yang belum diberitakan sebelumnya dapat disimak dalam buku yang dihiasi parade ratusan foto kegiatan SBY.

Dalam pengabdian kepada SBY, Dino menulis bahwa yang ada hanyalah kehormatan dicampur kecemasan apakah telah memberikan yang terbaik kalau tiba masanya meninggalkan Istana. (*)

diambil secara lengkap di http://www.antara.co.id/arc/2008/5/29/resensi-buku-kepemimpinan-sby-di-mata-dino/

Selamat Datang

Selamat datang di halaman virtual saya.

Di sini berisi berbagai hal yang mungkin akan berguna bagi anda dan khususnya bagi saya pribadi.

Selamat menikmati.

Mustofa W H

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.